Selasa, 15 Mei 2012

Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala


Pelayanan Prima dan Mewujudkan Lingkungan Kelurahan Alalak Selatan yang BUNGAS yaitu Bersih, Unggul, Nyaman, Gagah, Aman, Sehat dan Sejahtera

Profil Kelurahan Alalak Selatan
SEJARAH SINGKAT

Kelurahan Alalak Selatan pada awalnya merupakan daerah Kesultanan Banjar. Dan merupakan salah satu kampung tua selain kampung Kuin sebagai salah satu pusat Kesultanan Banjar pada awal-awal berdirinya dan cikal bakal Kota Banjarmasin. Menurut sejarahnya Kampung Alalak Selatan pada mulanya hanyalah sebuah wilayah delta pertemuan 4 buah sungai kecil yang berhutan rawa yang bermuara ke Sungai Barito. Lambat laun daerah yang sunyi ini di huni oleh para pendatang dari Melayu Pontianak, penduduk dari Pahuluan yaitu Kandangan dan Amuntai, Uluh Baritu atau orang Dayak Bakumpai Barito, Bugis, Cina, Arab dan yang terakhir pendatang dari Daha atau Negara. Komunitas-komunitas tersebut kemudian bercampur baur, berinteraksi, kawin mawin dan akhirnya membentuk suatu masyarakat baru yang kemudian disebut sebagai Orang Alalak. Dimana asal nama Alalak adalah dari bahasa Arab yaitu Al-Alaq yang artinya segumpal/menggumpal/menyatu.
Lamban laun kampung Alalak menjadi ramai di huni para pendatang dari berbagai daerah. Apalagi keberadaan Pasar Terapung yang merupakan pusat perekonomian masyarakat saat itu masih berkembang pesat. Ditambah lagi berdatangannya kayu atau hasil hutan dari Barito yang semakin menambah lapangan pekerjaan yang menarik minat para perantau untuk bertempat tinggal dan mencari penghidupan di Alalak. Kemudian perkembangan Kampung Alalak menuju arah modernitas seiring perkembangan zaman. Wilayah yang masih belum ada pemerintahan desa secara administratif kemudian pada sekitar 1950-an atau sesudah zaman kemerdekaan kemudian dibentuk sebuah pemerintahan desa oleh pemerintah Kotapraja Banjarmasin yang mana wilayahnya meliputi Kelurahan Alalak Selatan, Kelurahan Alalak Tengah dan Kelurahan Alalak Utara saat ini menjadi sebuah desa/kampung yang diberi nama Desa Alalak Besar. Dimana kepala pemerintahan saat itu dipimpin oleh seorang Pembakal yang bernama Pembakal Fasi.
Pada tahun 1960-an Desa Alalak Besar dimekarkan menjadi 3 desa yaitu Desa Alalak Selatan, Desa Alalak Tengah dan Desa Alalak Selatan. Dimana pada saat itu untuk pemimpin wilayahnya yang disebut pembakal dipilih secara langsung oleh masyarakat desa. Yang pertama kali menjadi pembakalnya adalah Pembakal Sahari kemudian digantikan oleh anaknya yaitu Pembakal Mukhtar. Pemilihan secara langsung itu dilakukan dengan sangat demokratis dan meriah. Berbagai pertunjukan rakyat  diadakan untuk memeriahkan perhelatan itu. Permainan rakyat itu antara lain Lukah Hamuk, Bakuntaw, Babintih, Balogo, Damar Wulan, Batopengan, Mamanda dan lain-lain. Diringi dengan iringan musik Panting. Para calon kepala desa atau pembakal diarak keliling kampung untuk disosialisasikan. Lalu pada hari pemilihan, para pemilih mencoblos tanda gambar para peserta yang sudah disiapkan.
Sekarang hal itu sudah  tidak dilakukan lagi dimana hal tersebut dimulai pada tahun 1980an. Saat itu status desa Alalak Selatan diubah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 140/502 tanggal 22 September 1980 tentang penetapan desa menjadi Kelurahan, maka sejak saat itu resmilah Desa Alalak Selatan menjadi Kelurahan Alalak Selatan.

 VISI dan MISI

    1. VISI 
      Adapun Visi Kelurahan Alalak Selatan adalah “ Pelayanan Prima dan Mewujudkan Lingkungan Kelurahan Alalak Selatan yang BUNGAS yaitu Bersih, Unggul, Nyaman, Gagah, Aman, Sehat dan Sejahtera “  
2. M I S I
  Dalam kaitan perumusan Visi tersebut di atas, maka untuk mecapai hal tersebut diperlukan adanya suatu Misi, Adapun Misi Kelurahan Alalak Selatan adalah  sebagai berikut : 
1.    Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat secara optimal dan arif.
2.    Menumbuhkembangkan budaya gotong royong dan swadaya masyarakat dalam upaya membangun lingkungan di wilayah Kelurahan Alalak Selatan.
3.    Meningkatkan Sumber Daya Manusia dalam upaya peningkatan kesejahteraan keluarga baik material maupun spiritual.
 

KONDISI GEOGRAFIS WILAYAH
1. Batas Wilayah
Kelurahan Alalak Selatan wilayah Kecamatan Banjarmasin Utara Daerah Kota Banjarmasin dengan perbatasan wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara dengan Kelurahan Alalak Tengah;
Sebelah Timur dengan Kelurahan Alalak Utara (sekarang di  batasi dengan Jalan HKSN)
 Sebelah Barat dengan Sungai Barito (Kabupaten Barito Kuala)
 Sebelah Selatan dengan Kelurahan Kuin Utara
2. Luas Wilayah
        Kelurahan Alalak Selatan mempunyai luas wilayah cukup besar yaitu 158,80 Ha yang terdiri dari :
a. Pemukiman       :  110,00  Ha
b. Persawahan      :    33,00  Ha
c. Perkebunan       :    07,00  Ha
d. Lain-lain            :    08,80  Ha
3. Kondisi Geografis
           Alalak Selatan yang terletak di tepian Sungai Barito dengan bentuk bentang wilayah yang datar dengan permukaan tanah dataran rendah yang berada 0,16 meter di bawah permukaan laut  dengan curah hujan rata-rata 2000 - 3000 mm/tahun, sedangkan keadaan suhu berkisar antara 25 derajat sampai 32 derajat celsius.
              Jenis dan kesuburan tanah yang ada di Alalak Selatan mempunyai tekstur warna tanah (sebagian besar) abu-abu dengan Tekstur Lempungan. Kedalaman 0,5 Meter dengan permasalahan mengandung kadar gambut yang tinggi mengingat tanah yang berawa.
        Adapun jarak tempuh Kelurahan Alalak Selatan dengan :
a. Ibu Kota Kecamatan        :         1  Km
b. Kota Banjarmasin             :         7  Km
c. Ibu Kota Propinsi             :         7  Km
Yang kesemuanya itu dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor. 

DEMOGRAFI/KEPENDUDUKAN
 
           Penduduk Kelurahan Alalak Selatan 75 % adalah penduduk asli, sedangkan sisanya 25 % sebagai pendatang baik dari Hulu Sungai maupun yang datang dari luar Kalimantan.
           Berdasarkan Sensus Penduduk 2010, jumlah penduduk sebanyak 11.594 jiwa, yaitu terdiri dari :
Ø     Penduduk Laki-laki            :  5.161    jiwa
Ø     Penduduk Perempuan        :  6.433    jiwa
Ø     Rumah tangga                   :   3.059   rumah tangga
Juga terdiri dari berbagai suku bangsa antara lain     :
Ø     Suku Banjar              : 8.937  jiwa
Ø     Suku Jawa                :    771  jiwa
Ø     Suku Bugis               :    593  jiwa
Ø     Suku Arab                :    421  jiwa
Ø     Suku Lainnya           :    872  jiwa
Yang kesemuanya tersebar dalam 26 Rukun Tetangga (RT) dan 2 Rukun Warga (RW). 
Pemerintahan
Untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai aparatur pelaksana urusan Pemerintahan di Kelurahan, pihak Kelurahan Alalak Selatan berpedoman pada Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 8 Tahun 2000 tanggal 25 April 2000 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Pemerintahan hingga Kelurahan.
1.   L u r a h                                               :  Saprudin
2.   Sekretaris                                           :  A. Faisal A., SSTP
3.   Kepala Seksi Pemerintahan             :  Marliana
4.   Kepala Seksi Trantib                         :
5.   Kepala Seksi Kesra                          :  Noorsiah
6.   Kepala Seksi Ekobang                     :  Ujang Supriatna, S.Sos
7.   Pranata Komputer                              :  Jayansyah, A.Md
8.   Staf Pelaksana                                   :  Sugiannor
9.   Staf Pelaksana                                   :  Zachrah
10. Kelompok JabFung (PLKB)             :  G a f a r

Program Kerja dan Kegiatan Kelurahan Alalak Selatan tahun 2010/2011 adalah sebagai berikut :
Program Kerja
Kegiatan
Peningkatan Pendataan Bidang Pemerintahan
Inventarisasi data bidang kependudukan, pertahanan, orsospol, kamtibmas
Menjalin silaturahmi dengan orsospol, ulama dan tokoh masyarakat
Peningkatan Siskamtibmas
Peningkatan Pendapatan Bidang Ekonomi Pembangunan
Inventarisir data perekonomian rakyat
Optimalisasi Pelaksanaan Program PNPM P2KP
Pembinaan Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan
Update data kelompok-kelompok KSM Ekonomi
Pembinaan KSM-KSM yang pinjaman bergulirnya tidak macet
Peningkatan Inventarisasi Pelayanan Umum
Inventarisir kekayaan dan barang kelurahan dan prasarana umum
Peningkatan inventarisasi pelayanan wisata
Inventarisir pengelolaan objek wisata dan prasarananya
Peningkatan Ketata usahaan
Pemberian pelayanan umum
Pembenahan prosedur kerja dan pelayanan public yang mencerminkan good governance
Pembenahan pola kearsipan
Pengagendaan kegiatan mingguan dan bulanan
Pembuatan laporan akhir tahun
Peningkatan penyelenggaraan
Administrasi pegawai
Pembenahan data kepegawaian melaksanakan proses administrasi kepegawaian
Pembuatan laporan kepegawaian
Peningkatan kapasitas pegawai

KEADAAN MASYARAKAT KELURAHAN ALALAK SELATAN
          Dimasyarakat Kelurahan Alalak Selatan sejak dulu telah terbina rasa kekeluargaan, persatuan dan kegotong royongan dan dilanjutkan dengan kegiatan/organisasi kemasyarakatan seperti :
v Arisan PKK setiap bulan disertai acara Yasinan yang dilaksanakan oleh Ibu-ibu RT dan masyarakat
v Majelis Yasin, Salawat, Tahlilan disetiap RT
v Majelis Ta’lim setiap Mesjid dan Mushalla
v Rukun Kematian
v Kelompok Maulid Habsyi, Di’ba

KEADAAN PEMBANGUNAN DI KELURAHAN ALALAK SELATAN
Swadaya Murni Masyarakat

1.           Perbaikan / rehab / pembangunan
2.           Jalan/gang/titian/siring sungai
3.           Adanya dana bergulir yang dikelola oleh BKM Al-Ikhlas

KEADAAN EKONOMI DAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT
                     Keadaan ekonomi masyarakat Kelurahan Alalak Selatan secara umum stabil namun masih banyak warga Kami yang tergolong ekonomi menengah ke bawah diantaranya ada yang miskin yang masih memerlukan perhatian dari pemerintah. Apalagi semenjak krisis ekonomi dan langkanya bahan baku kayu untuk industri penggergajian kayu membuat pengangguran bertambah.
                     Untuk meringankan beban warga yang tergolong ekonomi menengah kebawah / tidak mampu/ miskin ada bantuan yang disalurkan pemerintah yaitu :
v Memberikan Kartu Askeskin dan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) untuk berobat dan rawat inap
v Menyalurkan Raskin setiap bulan
v Melalui Program P2KP ada bantuan sosial bagi warga fakir miskin, cacat,lansia, jompo dll

KEADAAN KETERTIBAN DAN KEAMANAN
Dengan adanya Pos Kamling/ Petugas Jaga hampir setiap RT di perkampungan lama maupun di Komplek Perumahan sebagai wujud swadaya masyarakat itu sendiri maupun dengan sistem upah dan adanya kerja sama dari Polsek Banjarmasin Utara yang melalui pembinaan dari Babinkamtibmas yang ada disetiap Kelurahan maka ketertiban dan keamanan dapat terkendali.

SARANA DAN PRASARANA 
         1. Kantor Pemerintahan
v    Kantor Kelurahan Alalak Selatan
2. Pendidikan
v    TK                         :   2  buah
v    TPA                       :   2  buah
v    S D N                    :   4  buah
v    SLTPN                  :   1  buah
3. Peribadatan
v    Masjid                                       :   3  buah
v    Musholla / Langgar                  :   9  buah
4. Kesehatan
v    Puskesmas           :   1  buah
v     Posyandu              :   9  buah

DAERAH WISATA
Alalak Selatan mempunyai Potensi Wisata yang dapat dikembangkan  seperti Pasar Terapung yang menjadi ikon Kota Banjarmasin. Potensinya begitu besar untuk dikembangkan asal dengan pengelolaan yang baik. Pasar Terapung dari segi sejarahnya terbentuk dari aktivitas perniagaan masyarakat tepi Sungai Barito dengan masyarakat hulu Sungai Barito yang membawa berbagai hasil hutan dan pertanian. Dulu dengan cara barter tapi sekarang dengan pertukaran nilai uang.
Selain itu Alalak Selatan juga mempunyai objek wisata ziarah yaitu Makam Tomenggong Ronggo Abdurrahman Soeria Kasuma Bin Bayan Aji Bin Kiai  Rangga Kesuma Bin Sultan Sayyid Abdurrasyid Al Idrus seorang turunan bangsawan dari Kesultanan Sulu Filipina yang menetap di Alalak Selatan sampai akhir hayatnya. Makamnya oleh sebagian penduduk di keramatkan karena ke karomahan beliau semasa hidupnya. Selain itu dari Kawasan Pasar Terapung, para wisatawan bisa melanjutkan perjalanan ke objek wisata hutan alam di Pulau Kembang dan Pulau Kaget ditengah-tengah Sungai Barito yang juga tempat habitat kera dan bekantan sebagai binatang khas Kalimantan Selatan. Maka untuk mengembangkan wilayah Objek Wisata tersebut perlu adanya penataan wilayah dan berbagai penunjang yang mempengaruhi objek daya tarik wisata (ODTW).

Luas Wilayah Objek Wisata           :           72,78 Ha atau sekitar 45, 83 % dari
                                                                    Luas wilayah Alalak Selatan.


  
Pegawai Kantor Kelurahan Alalak Selatan
Pegawai Kantor Kelurahan Alalak Selatan
 
Kasi Ekonomi dan Pembangunan
Kasi Ekonomi dan Pembangunan
Ujang Supriatna, S.Sos

Kasi Pemerintahan
Kasi Pemerintahan
Marliana

Kasi Kesejahteraan Sosial
Kasi Kesejahteraan Sosial
Noorsiah

Staf Pelaksana
Staf Pelaksana
Sugiannor

Pranata Komputer
Pranata Komputer
Jayansyah, A.Md

Template Simple. Diberdayakan oleh Blogger.


Beberapa potensi dan peluang investasi di Kabupaten Barito Kuala yang dapat dikembangkan saat ini antara lain :

Pada wilayah Kecamatan Anjir Pasar, Anjir Muara, Alalak dan Mandastana, merupakan daerah pertumbuhan cepat untuk ekonomi dan perdagangan, dimana daerah tersebut terletak pada jalan Trans Kalimantan yang menghubungkan Propinsi Kalimantan Selatan dan Propinsi Kalimantan Tengah. Pada wilayah ini dilihat dari aspek SDM merupakan daerah pemukiman terpadat, relatif lebih dekat dengan ibukota propinsi (Banjarmasin), dekat dengan pelabuhan laut (Pelabuhan Trisakti) dan Pelabuhan Udara (Bandara Syamsudin noor).

Dikawasan wilayah ini tersedia pasar handil bakti yang dilengkapi pasar ikan hygenis dan fasilitas internet bagi petani untuk memperoleh informasi pasar, juga diwilayah ini prosfektif dikembangkan bisnis property/real estate menengah keatas, usaha pertokoan/ Toserba/Mall karena ditunjang oleh tersedianya lahan dan kemudahan sarana transportasi/areal parkir serta infrastruktur penunjang lainnya (seperti listrik, air bersih, sarana telekomunikasi dan lain sebagainya).

Disamping itu, kawasan tersebut berada dikawasan obyek wisata nasional Jembatan Barito dan pusat pengembangan program agropolitan Barito Kuala sehingga prosfektif pula dikembangkan investasi sarana pariwisata terutama wisata rakyat, pembinaan dan pelaksanaan event-event perlombaan olahraga dayung serta sudah tersedia lahan sirkuit untuk olah raga automotif.



Jembatan Rumpiang

Jembatan Rumpiang adalah jembatan yamg membentang di atas sungai Barito, kota Marabahan, kabupaten Barito Kuala. Jembatan ini diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 25 April 2008. Dengan hadirnya jembatan tersebut akan memperlancar arus lalu lintas dari Kota Marabahan menuju Banjarmasin dan sebaliknya yang sebelumnya harus menggunakan kapal feri untuk menyeberangi Sungai Barito. Jembatan Rumpiang sendiri memiliki total panjang bentang 753 meter dengan bentang utama sepanjang 200 meter menggunakan konstruksi pelengkung rangka baja. Pembangunan Jembatan Rumpiang dimulai sejak akhir tahun 2003, menggunakan dana baik dari APBN maupun APBD Kabupaten Barito Kuala dan Pemprov Kalimantan Selatan sebesar Rp174,5 miliar.

Jembatan Barito

Adalah obyek wisata yang jaraknya ± 15 km dari Kota Banjarmasin dapat dicapai dengan jalan darat ataupun sungai. Waktu tempuh ± 45 menit dengan menggunakan transportasi air (perahu kelotok) dari Pelabuhan Kuin menuju kearah hulu melintasi ujung Pulau Kembang, Pasar Terapung, Pulau Alalak, dan Pulau Muara Anjir.

Kubah Syekh Abdussamad

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSRppjFuJ8ckYwECeeq2NiFOFJBL_X8sRakn0a02ukFkfayiko1TwMakam Syekh Abdussamad bin Mufti Jamaluddin bin Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari Kelampayan, dari pihak ibu, ibu beliau adalah orang Dayak Bekumpai asli yang dinikahi oleh anak syekh Muhammad Arsyad al-Banjari yang bernama Mufti Jamaluddin. Syekh Abdussamad inilah yang berperan besar islamisasi Dayak Bakumpai.
Salah satu ulama keturunan Datu Kalampaian Syekh H Muhammad Abdusamad bin Al-Mufti H Jamaludin bin Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Cucu Datu Kalampaian ini lebih banyak berjuang menyebarkan Islam di pesisir Sungai Barito.
H Muhammad Abdussamad, lahir 24 Zulkaidah 1237 hijriah atau 1822 masehi dari seorang ibu bernama Samayah binti Sumandi di Kampung bakumpai atau Kampung Tengah Marabahan.
‘Buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, begitu kira-kira pribahasa yang pantas bagi keturunan Syekh Arsyad Al-Banjari seperti Syakh Muhammad Abdussamad. Riwayat hidupnya pun hampir sama dengan kehidupan syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari seperti menuntut ilmu ke Mekkah.
Menginjak dewasa, Syekh Muhammad Abdusamad belajar ilmu agama dengan ayah yang juga terkenal sebagai sebagai ulama dan beberapa temannya di Martapura. Karena dianggap cukup mempelajari ilmu agama, Abdusasamad dipulangkan ke Bakumpai (Marabahan) untuk menyebarkan ilmu agama kepada masyarakat.
Tak lama setelah kembali ke kampung halaman, Muhammad Abdusamad kawin dengan seorang wanita bernama Siti Adawiyah binti Buris. Dari hasil perkawinan, dikarunia empat anak yaitu Zainal Abidin, Abdul Razak, Abu Thalhah dan Siti Aisyah.
Seperti juga kekeknya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Syekh Muhammad Abdusamad haus akan ilmu agama. Karenanya selain mengajar ilmu agama, Muhammad Abdusamad berniaga untuk mengumulkan uang agar dapat menuntut ilmu ke Mekkah disertai anaknya Abdul Razak.
Syekh Abdulsamad belajar dan menimba ilmu, baik syariat maupun hakikat seperti dengan guru Allamah Syekh Khatib Sambas. Dalam ilmu hakekat, Muhammad Abdusamad belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman Al-Zuhdi An-Naqsyabandy dan belajar dengan Allamah Syekh Sulaiman bin Muhammad Sumbawa.
Syekh Muhammad Abdusamad bermukim di Mekkah hanya sekitar delapan tahun, karena guru-gurunya menyuruh untuk kembali ke kampung halaman guna menyebarkan agama. Sebelum pulang, Syekh Muhammad Abdusamad sempat diuji keponakan yang terlebih dulu menimba ilmu di Mekkah H Jamaludin bin H Abdula Hamid Qusyasyi.
Karena ketinggian ilmu tarekatnya, Syekh Muhammad Abdusamad sempat hilang saat shalat. Atas ketinggian ilmu tarekatnya itu, keponakannya yang tadinya melarang untuk pulang ke kampung halaman, akhir mempersilakannya.
Sekembali di kampung halaman, Syekh Muhammad Abdusamad mulai membuka pengajian dan ramai dikunjungi para penuntut ilmu dari berbagai daerah. Untuk menampung para penuntut ilmu, Syekh Muhammad Abdusamad membangun sebuah langgar di depan rumah dan membangun balai yang saat ini menjadi kubah almarhum di marabahan.
Dalam kegiatan dakwahnya, Syekh Muhammad Abdusamad selalu melalukan perjalanan ke pesisir Sungai Barito sampai ke udik-udik anak sungai untuk mendakwahkan Islam. Tak heran, banyak suku Dayak pedalaman yang memeluk agama Islam. Genap berusia 80 tahun, Syekh Muhammad Abdusamad meninggal dunia tepat 13 Safar 1317 H.

Datuk Gusti Amini

Gusti Aminin adalah Putera Suryanapati bin Jaya Diwangsa. Tidak diketahui secara pasti kapan beliau dilahirkan. Namun apabila dihitung tahun wafatnya sekitar 1745 masehi, maka saat meninggal diperkirakan usianya tidak kurang dari 100 tahun. Artinya, sekitar tahun 1645-an Gusti Aminin lahir. Bersama Datu Khayan dan Datu Kapitan, Datu Aminin memimpin masyarakat Pulau Alalak dan Berangas menyerang kapal-kapal Belanda. Sejumlah pertempuran di perairan Sungai Barito pun sudah sering diikutinya. Beliau terkenal sakti, bahkan tembakan musuh tak bisa bersarang di tubuhnya.
Dikisahkan, sekitar abad XVIII terjadi pertempuran hebat di Muara Mantuil Banjarmasin. Karena persenjataan dan kekuatan musuh lebih banyak, Datu Aminin memerintahkan mundur. Namun, karena Datu Kapitan tidak mau mundur dan terus maju, Datu Kapitan pun akhirnya gugur.
Melihat Datu Kapitan tewas bersimbah darah, Gusti Aminin mengamuk dengan mandau di tangan. Pihak musuh banyak yang tewas akibat serangan Gusti Aminin yang membabi-buta tersebut. Sementara peluru yang dimuntahkan Belanda, tak satu pun mampu menembus tubuhnya. Serangan Gusti Aminin ini juga menewaskan seluruh isi kapal Belanda termasuk kapten kapal.
Namun, tidak lama setelah kejadian itu, Gusti Aminin jatuh sakit. Sejumlah peluruh yang tidak berhasil menembus tubuhnya ternyata membuat luka dalam. Gusti Aminin pun akhirnya menghembuskan napas terakhirnya sekitar tahun 1745. Datu Aminin sendiri sebelumnya juga dimakamkan di Desa Berangas. Namun pada tahun 1977, oleh cucu beliau bernama Muhammad Yusuf dipindah ke Pulau Sugara. Usia Muhammad Yusuf sendiri saat pemindahan makam tersebut dikabarkan sudah berusia 165 tahun.

Datuk Khayyan

Datuk Khayyan adalah bukan nama asli Syekh Abdurrahman Siddik. Nama itu digunakan untuk menghindari sweeping serdadu Belanda. Kemurkaan tentara Belanda terhadap Datuk Khayan, karena ulama besar Alalak ini merupakan sosok pejuang yang senang membela kebenaran. Lelaki asal Banten ini dikisahkan pernah "madam" (merantau) ke sejumlah daerah. Kalbar, Kalteng, sampai menetap di Kecamatan Alalak, Kabupaten Batola.
Di Kalbar, Datuk Khayan diberi gelar Sayid Abdurrahman Assegeaf Al Bukhayyan. Di kecamatan itulah (sekitar abad ke-17, Red) tengah terjadi pertempuran pejuang pribumi dengan Belanda di perairan Sungai Barito.
Datuk Khayan yang melihat perjuangan rakyat, turut membantu. Dia tidak rela menyaksikan tentara Belanda menguasai Sungai Barito. Karena keberaniannya melawan Belanda di perairan Sungai Barito lah, Datuk Khayan mendapat gelar Darrun Khayyan. Menurut bahasa Dayak, Darrun berarti Panglima. Sedangkan Khayyan adalah nama sub suku Dayak.
Selain berjuang, Datuk Khayan juga dikenal sebagai ulama Tasauf yang mempunyai banyak murid. Datu Khayyan mempunyai 3 istri. Isteri pertama bernama Zamrud asal Martapura. Dari perkawinan dengan Zamrud, ia dikaruniai 5 anak. Sedang dari isteri kedua, Syarifah Radiah asal Nagara HSS, Datuk Khayan dikaruniai 3 anak. Dari isteri ketiga Siti Sajanah, belum didapat data berapa jumlah keturunan.
Pada 1850, Datuk Khayan meninggal dunia dalam usia 150 tahun. Atau tepatnya 10 Rabiulawal, 153 tahun yang lalu. Ia dimakamkan di kediaman Alalak yang belakangan ramai dikunjungi orang.

Pulau Kambang

Selain pengunjung yang ingin melihat warik-warik, ada pula pengunjung yang sengaja ke Pulau Kambang karena mempunyai niat atau nazar tertentu. Di pulau ini terdapat altar yang digunakan oleh etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu sebagai tempat meletakkan kambang untuk dipersembahkan kepada "penjaga" Pulau Kambang. Altar tersebut dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih. Jika permohonan mereka dikabulkan, biasanya mereka melepaskan seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas sebagai tanda atau ucapan terima kasih kepada "penjaga" Pulau Kambang.

Kenapa Pulau Kambang dijadikan sebagai tempat berziarah? Lalu, bagaimana dengan keberadaan warik-warik tersebut? Ternyata, Pulau Kambang sebagai tempat berziarah dan keberadaan warik-warik tersebut memang memiliki cerita tersendiri di kalangan masyarakat Kalimantan Selatan, yang dikenal dengan cerita Pulau Kambang.
Konon, pada zaman dahulu kala, di Muara Sungai Barito berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan Kuin. Letaknya yang strategis menjadikan kerajaan tersebut sangat ramai dikunjungi oleh pedagang dari berbagai negeri. Selain letaknya yang strategis, kerajaan ini mempunyai seorang patih yang sangat sakti, berani dan gagah perkasa. Namanya Datu Pujung. Ia merupakan andalan dan benteng pertahanan Kerajaan Kuin untuk menghalau segala ancaman yang datang dari luar.

Asal Mula Pulau Kembang

Suatu hari, sebuah jung besar berasal dari negeri Cina berlabuh di Sungai Barito. Meskipun di dalam jung itu terlihat kesibukan yang luar biasa, tidak seorang penduduk negeri yang mengetahui apa sebenarnya yang mereka kerjakan dalam jung itu. Penduduk negeri juga tidak tahu maksud kedatangan mereka. Layaknya tamu, semestinya mereka mengirim utusan menghadap kepada penguasa negeri. Lama ditunggu, tak seorang pun yang keluar dari jung itu untuk menyampaikan maksud kedatangan mereka. Sikap yang demikian itu membuat penguasa negeri menjadi lebih berhati-hati. Seluruh pengawal pelabuhan dipersiapkan untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan.
Keesokan harinya, sebuah perahu yang sarat serdadu berseragam dan bersenjata lengkap merapat di tepian sungai. Seorang di antaranya melompat ke darat sambil menambatkan seutas tali di kayu ulin yang sengaja dijadikan titian. "Wahai, anak negeri! Sebelum pertumpahan darah terjadi, kalian semua disarankan untuk menyerah. Jika tidak, negeri ini akan kami musnahkan. Siapapun yang berani melawan akan kami bunuh, dan yang tidak melawan kami jadikan sebagai budak tawanan!" ujar seorang utusan. Datu Pujung menjawab ancaman itu dengan kata-kata yang halus, "Musuh bagi kami tidak dicari. Bila datang, pantang bagi kami untuk menghindarinya." Lalu, Datu Pujung balik bertanya, "Apakah kalian mampu mengalahkan kami?" Ucapan Datu Pujung membuat utusan itu geram. "Hai, orang tua! Berani sekali kamu berkata begitu. Apakah kamu minta bukti keperkasaan kami?" balas utusan itu. "Ya, begitulah," jawab Datu Pujung dengan penuh wibawa.
"Hai, prajurit! Kepung dan tangkap mereka!" perintah sang Kepala Utusan. Namun, sebelum serdadu-serdadu tersebut bergerak, Datu Pujung melompat ke arah sang Kepala Utusan dan menorehkan sebilah pisau ke leher orang yang mengancam tadi. "Tidak bijaksana. Sama sekali tidak bijaksana. Sama dengan tidak bijaksananya pisauku ini. Ia akan menoreh dan membuat lehermu berlubang bila anak buahmu meneruskan langkahnya," gertak Datu Pujung sambil menggores-goreskan pisaunya di leher sang Kepala Utusan.
Melihat keselamatan pemimpinnya terancam, para serdadu mengurungkan niatnya. Mereka tidak berani bergerak sedikit pun. Datu Pujung mundur selangkah. Sambil berbalik ia menawarkan sebuah taruhan. "Hai, Kepala Utusan! Di antara kita tidak perlu ada pertumpahan darah jika tawaranku ini kamu terima secara kesatria!" ujar Datu Pujung.
"Apa itu?" balas si Kepala Utusan penasaran. "Tariklah pohon ulin yang kalian jadikan titian itu sampai ke sini. Dengan senjata yang kalian miliki, penggal pohon itu menjadi dua potong. Jika kalian sanggup melakukannya, seluruh daerah ini akan menjadi milik kalian. Tapi sebaliknya, jika tidak mampu, dengan penuh hormat kami persilahkan kalian meninggalkan daerah ini sebelum kami berubah pikiran," ancam Datu Pujung sambil menunjuk tebangan pohon ulin sebesar drum yang panjangnya tidak kurang dari sembilan depa.
"Tawaranmu kami terima, orang tua!" sambut Kepala Utusan dengan jumawa. "Kalau begitu. Bersiaplah untuk menarik kayu ulin itu,"ujar Datu Pujung. Mendengar ujaran itu, si Kepala Utusan terdiam. Sepertinya ia mulai ragu pada kemampuannya. Bagaimana mungkin ia bisa mengangkat kayu sebesar drum dan panjang itu. Datu Pujung sudah tidak sabar menunggu si Kepala Utusan melaksanakan kesanggupannya. "Tunggu apalagi, Kepala Utusan?" desak Datu Pujung. Perlahan-lahan si Kepala Utusan mencoba untuk mengangkat pohon ulin itu, namun tidak bergerak sedikit pun. Melihat ketidakmampuan komandannya, seluruh anggota pasukan ikut membantu menarik tebangan pohon ulin. Tapi, usaha mereka tetap saja sia-sia. Jangankan pohon ulin itu bergeser, bergerak pun tidak. Kemudian senjata mereka mereka tebaskan ke batang tersebut, tetapi jangankan pohon itu terbelah, tebasan mereka membekas pun tidak padanya.
Datu Pujung hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Sambil mengawasi gerak-gerik lawannya, ia pun segera mendekati pohon itu. Dengan sebelah tangannya, ia menarik kayu ulin itu. Sebilah parang bungkulnya yang terhunus kemudian menebas kayu ulin itu hingga terpotong menjadi dua. Salah satu potongan sengaja ia lemparkan ke arah seluruh pasukan tersebut. Mereka pun lari terbirit-birit ke arah perahu. "Tunggu pembalasan kami sebentar lagi!" ujar mereka mengumbar ancaman. Perahu mereka dayung dengan sekuat tenaga menuju ke jung di tengah sungai.
Datu Pujung tidak menghiraukan ancaman itu. Dengan potongan kayu ulin yang lain, Datu Pujung meluncur ke sungai mengejar mereka. Dalam kejar-kejaran tersebut, Datu Pujung berhasil mendahului mereka tiba di atas jung. Pasukan naik di bagian depan jung, sedangkan Datu Pujung naik di buritan. "Kalian semua memang tidak bisa diberi hati!", seru Datu Pujung penuh amarah. Ia mengambil pisau kecil dari balik bajunya, lalu mencungkil lambung jung itu. Dalam sekejap, air pun menggenangi jung. Sebuah hentakan kaki Datu Pujung membuat perahu bocor. Air memenuhi seluruh jung hingga tenggelam. Seluruh pasukan dan isi jung pun ikut tenggelam.
Sejak itu, endapan lumpur dan batang-batang kayu yang hanyut di Sungai Barito selanjutnya menimbun jung itu hingga membentuk delta atau pulau.

Asal Mula Warik Pulau Kembang

Bagaimana pula dengan Warik (kera) yang banyak di pulau kambang itu? Ternyata memang memiliki cerita tersendiri dan menjadikan pulau ini memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Dalam ceriteranya disebutkan salah satu keturunan raja di daerah Kuin tidak dikaruniai anak. Menurut ramalan ahli nujum kalau ingin punya anak harus berkunjung ke Pulau Kambang dengan mengadakan upacara badudus (mandi-mandi). Ramalan dan nasihat ahli nujum ini dipenuhi oleh kerabat kerajaan.

Beberapa waktu setelah mengadakan upacara di Pulau Kambang itu, ternyata isteri dari keturunan raja dimaksud hamil. Begitu gembira dan bahagianya keluarga raja dengan kehadiran anak yang dinanti-nantikan, maka raja yang berkuasa memerintahkan petugas kerajaan untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang merusak atau mengganggunya.
Petugas kerajaan yang mendapat perintah menjaga pulau ini membawa dua ekor warik besar, jantan dan betina yang diberi nama si Anggur. Konon menurut ceritanya setelah sekian lama petugas kerajaan ini menghilang secara gaib, tak diketahui kemana perginya. Sedangkan warik yang ditinggalkannya beranak pinak dan menjadi penghuni pulau kambang. Para orang tua dahulu ketika mengunjungi pulang kambang masih bisa melihat si Anggur yang memang berbeda dari warik biasa.
Keberadaan warik-warik ini telah menjadikan pulau kambang semakin menarik untuk dikunjungi. Berdasarkan hasil pengamatan yang pernah dilakukan oleh mereka yang perhatian terhadap keberadaan warik di pulau kambang ini diketahui ada dua kumpulan kera yang keluar dari persembunyiannya secara bergantian. Rombongan warik pertama yang keluar sekitar pukul 05.00 s.d. l3.00 dan setelah itu disambung oleh kumpulan warik sip kedua yang berada di tengah pengunjung pulau kambang. Kalau rombongan sip pertama tidak menaati ketentuan dengan pengertian melewati batas waktu operasional, maka ia akan diburu oleh rombongan warik lainnya. Tepatnya waktu itu mungkin hanya sesama warik yang tahu.
Begitulah asal muasal pulau Kambang beserta warik penghuninya. Tentang kebenarannya terpulang kepada Yang Maha Esa. Bahwa Pulau Kambang dan warik itu memang nyata dikelilingi sungai sekitarnya, tak perlu mempersoalkan keberadaannya. Tapi jangan lupa mengunjungi sebagai tempat wisata.

Vihara Pulau Kembang

Di dalam kawasan hutan wisata ini terdapat altar yang diperuntukkan sebagai tempat meletakkan sesaji bagi " penjaga" pulau Kembang yang dilambangkan dengan dua buah arca berwujud kera berwarna putih (Hanoman), oleh masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang mempunyai kaul atau nazar tertentu dan juga sebagai salah satu tempat ziarah orang Tionghoa. Seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang apabila sebuah permohonan berhasil atau terkabul.Di pulau ini terdapat sebuah Vihara Cina yang sudah sangat tua dan banyak dikunjungi keluarga Cina untuk beribadah. Umumnya para pengunjung datang pada hari Minggu dan Vihara ini dijaga oleh sekumpulan kera berekor panjang yang banyak mendapatkan makanan dari pengunjung seperti kacang, pisang dan telur. Cerita tentang tenggelamnya kapal dengan para penumpangnya yang kebanyakan etnis Cina tersebut menyebar dari mulut ke mulut dan waktu ke waktu. Sehingga mereka yang berasal dari keturunan Cinapun banyak yang mengunjungi pulau tersebut untuk mengenang dan memberikan penghormatan terhadap jasad yang berkubur di situ. Jadilah pulau ini sebagai tempat penyampaian doa nadzar, terutama bagi mereka yang merasa memiliki ikatan batin atas keberadaan pulau itu. Dahulu setiap orang yang berkunjung ke sana membawa sejumlah untaian kambang (bunga), dan karena berlangsung sepanjang waktu terjadilah tumpukan kambang yang sangat banyak. Mereka yang melintasi pulau itu selalu melihat dan menyaksikan tumpukan kambang yang begitu banyak. Oleh karena selalu menarik perhatian bagi mereka yang melintasi tempat ini dan menjadi penanda, maka untuk menyebutnya diberi nama Pulau Kambang.
Lama kelamaan nama pulau kambang semakin dikenal dan ramai dikunjungi orang dengan niat dan tujuan yang berbeda-beda. Misalnya ada yang mengkeramatkannya atau sekadar ingin tahu keberadaan pulau kambang yang telah melegenda itu. Sekarang pun masih ditemui adanya kunjungan dari mereka yang punya hajat tertentu dan berbaur dengan para pengunjung atau para wisatawan lainnya setelah mengunjungi pasar terapung.

Pulau Kaget

Pulau Kaget adalah sebuah delta yang terletak di tengah-tengah sungai Barito termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Tabunganen, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Pulau Kaget terletak dekat muara sungai Barito.Waktu tempuh menuju lokasi yaitu ± 15 menit dengan memakai speed boat dari Kota Banjarmasin, atau ± 1,5 jam dengan menggunakan kelotok.Pulau Kaget merupakan habitat bagi Monyet Besar Berhidung Panjang atau oleh penduduk setempat disebut dengan Kera Belanda / Bekantan karena hidungnya panjang, mukanya merah serta perutnya yang gendut. dan beberapa jenis burung.

Kawasan pulau Kaget juga merupakan salah satu obyek wisata yang berada di dalam kawasan hutan di Kabupaten Barito Kuala.Pulau cagar alam yang terletak di tengah muara Sungai Barito, dekat pantai Laut Jawa, dihuni Bekantan (kera berhidung panjang dan berperut buncit). Satwa ini sebagai maskot Kalimantan Selatan, hidup liar dan pemalu, biasa mudah dilihat/ditemui saat pagi hari atau sore hari.Begituklotok (perahu bermesin) yang membawa rombongan mendekati Pulau Kaget, mereka "disambut" puluhan bahkan ratusan penghuni pulau itu dengan bunyi "nguuuk....nguuuuk, nguuuuuuk...," dan satwa langka itu pun lalu berlompatan kegirangan dari satu pohon ke pohon yang lain. Mungkin maksudnya ucapan selamat datang bagi para tamu.Kaget "disapa" satwa berhidung mancung terhadap siapa saja yang mendekati habitat bekantan (Nasalis larvatus) itulah, pulau seluas 85 hektar itu dinamai Pulau Kaget. Dan Menteri Pertanian selanjutnya memberi status sebagai Cagar Alam Pulau Kaget (CAPK) sejak tahun 1976 guna melindungi warik (monyet Belanda-sebutan populer masyarakat setempat terhadap bekantan) beserta habitatnya.

Terantang

http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTyJ7sq0iBePqkfcNDpNhS33vAANFfvkq7DAje9bEaFoGry0XlsSesuai potensi yang dimiliki, arah pembangunan Kabupaten Barito Kuala (Batola), tak lepas dari pengembangan sektor pertanian, tanpa mengesampingkan sektor pendukung, yaitu pendidikan, kesehatan,perkebunan, kehutanan, peternakan dan sektor lainnya. Batola memang tak memiliki kekayaan berupa pertambangan. Kekuatan perekonomian warganya, justru bertumpu pada hasil pertanian.

Kawasan agropolitan dipusatkan di daerah pengairan Terantang dan Belawang, diikuti pengembangan beberapa sentra produksi. Kawasan sentra produksi jeruk dan holtikultura berbasis padi, dipusatkan di Kecamatan Belawang, Barambai, Cerbon, Mandastana, Jejangkit dan Marabahan. Sedangkan kawasan pengembangan sapi potong dan kambing berbasis padi dan palawija, di kerahkan di Kecamatan Wanaraya dan Barambai. Selain itu ditetapkan pula kawasan sentra kelapa rakyat di Kecamatan Tamban, Mekarsari dan Alalak. Berikutnya, sentra perikanan dan kelautan di Kecamatan Tabunganen.
Di sektor perikanan dan kelautan, Batola berhasil membudidayakan udang galah sebagai komoditas unggulan. Lebih hebatnya, di Terantang terdapat sirkuit Grass Track semi permanen yang sering menyelenggarakan even-even balapan




Kabupaten Batola adalah salah satu kabupaten dengan potensi sumberdaya alam  yang mempunyai peluang dalam usaha Perikanan dan Kelautan.  Secara administratif.  Kabupaten Barito Kuala adalah salah satu kabupaten yang berada diwilayah Provinsi  Kalimantan Selatan.  Nama “Barito Kuala”  yang berarti muara Sungai Barito mereflleksikan bahwa kehidupan masyarakat di sini sangat dipengaruhi oleh keberadaan salah satu sungai terbesar di Indonesia tersebut.  Selain berperan sebagai sumber air untuk rumah tangga dan industri, jalur transportasi air, tempat rekreasi serta daerah penangkapan ikan  Sungai dengan panjang 120 km yang berada di Kabupaten ini juga telah dimanfaatkan untuk kegiatan usaha Budidaya Perikanan Air Tawar, air payau serta penangkapan.  Potensi penangkapan pada panjang pantai 14,2 km dengan areal penagkpan sampai 10 mil laut.

Kegiatan perikanan yang berkembang mulai dari arah utarah yaitu kecamatan kuripan berupa penangkapan di sungai, pembesaran ikan Toman, betutu, patin dan nila dalam karamba  sampai kearah selatan yang berbatasan dengan laut jawa dengan usaha perikanan tangkap di lauta dan darar, Pembesaran ikan bandeng dan udang di tambak sekitar 3500 ha dan ikan  betok, nila dan patin di kolam, pengolahan hasil perikanan seperti ebi, terasi dan ikan kering.

Daerah daerah yang potensial dikembangakan sebagai sentra-sentra produksi di batola sebagian besar merujpakan daerah daerah desa tertinggal (PDT),  Potensi ini sangat potensial untuk dikembangkan sebagai areal Minapolitan atau kantong-kantong produksi .

Potensi Perikanan tersebar mulai dari Kecamatan Tabunganen sampai Kecamatan kuriapan karena hampir seluruh kecamatan di lalui oleh Sungai barito dan satu kecamatan merupakan kecamatan pesisir. Potensi Sungai Barito yang merupakan salah satu sungai terbesar di Indonesia berada di Kabupaten Barito Kuala.  Dengan panjang 120 km dari muaranya hingga perbatasan di sebelah utara (kabupaten Hulu sungai Utara), sungai ini menjadi modal utama untuk potensi Sumber  Daya Alam yang akan mendukung kegiatan pengembangan usaha budidaya.  Selain itu, banyaknya anak sungai dan kanal di Kabupaten ini juga membuat lokasi usaha tidak hanya terkonsentrasi di karamba atau jaring apung namun bisa menyebar di perkolaman pasang surut maupun tadah hujan serta mina padi.

Secara umum, kegiatan pemanfaatan sungai barito yang  telah dilaksanakan oleh masyarakat terletak di Kec. Kuripan (karamba), Kec. Marabahan (Karamba dan KJA), Kec Cerbon (KJA). dan Kecamatan Tabukan (karamba).

Program pengambangan budidaya di dalam Karamba telah dikembangkan sejak dengan sumber dana APBD dan APBN melalui penguatan modal dan Pinjaman Karamba jaring apung bagi pembudidaya.  Fasiltas penunjang tleah dibangun di 2 kecamatan yaitu kec Cerbon dan Marabahan yaitu tiang pancang dan rumah jaga walaupun jumlah tiang pancang masih minim dan perlu tambahan kembali.

Pengembangan kawasan PDT hendaknya terencana dan bersinergi dengan masyarakat serta pihak yang terkaitan. Pada bidang perikanan dan kelautan telah titik-titik pengembangan sentral-sentra perekonomian masyarakat pada pendekatan komoditas.

A. Sental  Komoditas Air Payau  (Bandeng)

Sental pengembangan air payau dengan komoditas utama ikan bandeng berada di Kec. Tabunganen. Pembangunan yang terakhir dibangun yaitu akses jalan usaha budidaya di tambak dari Desa Tanggul rejo menuju pertambakan baru dalam tahap pembangunan badan jalan di tahun 2009.

Hasil produksi bandeng yang berlimpah telah di arahkan untuk pengolahan bandeng asap dalam bentuk pelatihan. Tahap permodalam masih belum bisa dilaksanakan.

B. Sental Perkolaman Patin Dan Lele

Pengembangan Budidaya ikan kolam dikecamatan alalak berawal dari Dempot percontohan di pompes Al-Amin desa beringin dan pinjaman pengutan modal di 2 kelompok pembudidaya dengan area budidaya kurang lebih 0,4 ha komoditas yang diusahakan yakni ikan patin dan nila.

Sedangkan pada akhir 2010 kegiatan pembudidaya ikan dikolam sudah menyebar luar tidak hanya didesa beringn tetapi sudah menyebar luar ke 8 desa lainya seperti sungai pitung, sungai lumbah, belandean dan lainya. Total daerah budidaya sekitar 3,5 ha dengan jumlah kolam mencapai 250 buah ikan yang diusahakan patin,nila, gurame, lele dan yang terbaru ikan papuyu.

Pada tahun 2009 dilaksanakan demplot ikan lele sangkuriang pada Kelompok Setia Kawan yang merupakan kerjasama pemerintah daerah dengan Fakultas Perikanan Universitas Lambung Mangkurat. Sejak demplot tersebut berkembanga budidaya ikan lele sangkuriang  Kelompok pembudidaya ikan Setia kawan ini  pada tahun 2010 menjadi juara kelompok pembudidaya ikan tingkat propinsi dan pada tahun 2010 menjadi  juara tiga kelompok pembudidaya ikan (komoditas cet fish) tingkat nasional.

Didesa beringin juga terletak sekretariat UPP (unit pelayanan Pengembangan) “Perikanan Budidaya” yang pada tahun 2010 mendapatkan juara dua tingkat propinsi.total produksi ditahun 2010.

Pada Kecamatan alalak masih banyak kelompok pembudidaya ikan yang skala usahanya masih tidak ekonomis dan belum mencukupi kebutuhan sehari-hari.

C. Sental Karamba Jaring Apung Ikan Nila

Pengembangan sental budidaya ikan nila di Karamba jaring apung berada di Kecamtan Marabahan memanjang mulai dari Desa Marabahan Kota, Penghulu, Baliuk dan Bagus.

Melalui program pengembangan perikanan budidaya melalui kegiatan revitalisasi perikanan di kawasam budidadaya air tawar mulai tahun 2006 mulai dirintis mengembangan budidaya ikan di dalam Karamba Jaring Apung (KJA) di kecamatan marabahan dan kecamtan Cerbon. Sejak tahun 2007 usaha mulai berkembang. Pada tahun 2008 dibangun kembali sebanyak 40 unit KJA yang disebar ke Kecamatan marabahan dan Kecamatan Cerbon pada 5 kelompok Pembudidaya ikan (poldakan) tiap kelompok yang menerima sebanyak 8 orang. Sampai dengan sekarang proses budidaya masih berjalan dengan lancar.  Pada tahap kedua di lanjutkan kegiatan pembuatan kja sebanyak 20 unit untuk 7 Kelompok pembudidaya ikan di Kelurahan Marbahan Kota Kecamatan Marabahan dan Desa Badandan Kec. Cerbon.

Komoditas yang diusahakan adalah ikan patin dan ikan nila.  Kedua komoditas ini menjadi pilihan karena daya adaptasinya yang kuat terhadap karakteristik perairan sungai Barito dan serapan pasar yang cukup besar.

Rencana pengembangan dikhususkan untuk Kecamtan Marabahan mulai dari Kelurahan Ulu benteng, Kelurahan Marabahan kota, Desa Penghulu, Desa Baliuk dan Desa Bagus dengan desain karamba baru.

D. Sentral kolam Ikan lokal (betok dan Gabus)

Pengembangan sentra ikan lokal berada di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Alalak dan Kecamatan Jejangkit. Komoditas unggulan pada kecamatan Jejangkit adalah ikan betok dan gabus yang dipelihara di dalam kolam dan Kecamatan Alalak khusus untuk pengembangan ikan betok.

E. Sentral Karamba Ikan lokal (toman)

Pengembangan sentra ikan lokal berada di 2 kecamatan yaitu Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Jejangkit. Komoditas unggulan pada kecamatan Kuripan adalah ikan toman yang dipelihara di dalam karamba. Karamba di Kecamatan Kuripan berkembang sejak adanya hibah dana CD Batubara tahun 2008 dimulai dari budidaya ikan patin di Desa Tabatan Baru.

Kelompok mendapatkan dana hibah dari PT Adaro melalui progran CD Batu Bara di akhir tahun 2009 yaitu masing-masing sebesar Rp.17.500.000,-. Perkembangan Karamba toman di Desa Rimbun tulang sebagai berikut :

a.       Tahap pertama penggunaan dana CD Batu Bara Kelompok pantai barito untuk pembeliah bibit toman dan pakan untuk 3 buah Karamba kemudian berkembang menjadi 7 buah pada tahap ke 2 teber benih 5000 ekor.

b.      Tahap pertama penggunaan dana CD Batu Bara Kelompok PATINU SIDIN untuk pembeliah bibit toman dan pakan untuk 8 buah Karamba kemudian berkembang menjadi 8 buah pada tahap ke 2 dengan jumlah tebar benih 8000 ekor

Karamba ikan toman di Desa Rimbun tulang sebanyak 33 buah dan jumlah yang siap panen sebanyak 31 buah dengan ukuran panen rata-rata 1 kg/ekor dan estimasi hasil panen sebanyak 8,37 ton ( tiap karamba 270 kg),

Pada Panen raya  toman pada tanggal 8 Februari 2011 di panen sebanyak 4 buah dengan hasil sebanyak 1,1 ton jadi rata-rata per karamba sebanyak  sekitar 275 kg per karamb

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar